Tampilkan postingan dengan label Artikel Kehutanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Kehutanan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Mei 2016

MENGENAL POHON ULIN SI POHON KAYU BESI DARI KALTIM


Nama lain dari pohon ulin adalah pohon kayu besi. Dan sebenarnya, pohon ulin (eusideroxylon zwageri) adalah salah satu pohon yang terkenal dari hutan Kalimantan Timur dengan ciri kayu yang keras dan kuat, warna gelap, dan tahan terhadap air laut.

Tinggi pohon ulin mencapai 50 meter dengan diameter hingga 120 cm. Selain itu, pohon ini banyak ditemukan di dataran rendah.

Pohon ini agak terpisah dari pepohonan lain dan dikelilingi jalur jalan melingkar dari kayu ulin. Sementara, di bagian bawah pohon, terdapat bagian yang berlubang. Jenis kayu dari pohon ulin tidak mudah lapuk, baik di air maupun daratan. Itulah sebabnya, kayu ini banyak dipakai sebagai bahan bangunan khususnya untuk rumah yang didirikan di atas tanah berawa.

Sementara itu, proses pemuliaan alami di hutan bekas tebangan umumnya kurang berjalan dengan baik. Perkecambahan biji ulin membutuhkan waktu cukup lama sekitar 6-12 bulan dengan persentase keberhasilan relatif rendah. Apalagi, produksi buah tiap pohon umumnya juga sedikit. Biji ulin lebih suka ditiriskan baik tanah, tanah liat berpasir ke tanah liat, kadang-kadang batu kapur. Hal ini umumnya ditemukan di sepanjang sungai dan bukit-bukit yang berdekatan. Hal ini membutuhkan rata-rata curah hujan tahunan 2500-4000 mm.


Kayu Ulin (Eusideroxylon zwageri) atau biasa disebut kayu besi adalah salah satu kayu yang terkenal dan terkuat di habitatnya hutan Kalimantan. Ada berbagai nama daerah untuk Ulin, antara lain bulian, bulian rambai, onglen (Sumatera Selatan), belian, tabulin, telian, tulian dan ulin (Kalimantan) (Abdurachman, 2011). 

Martawijaya et al. (1989) menyatakan bahwa kayu ulin sangat kuat dan awet, dengan kelas kuat I dan kelas awet I, berat jenis 1,04. Kayu ulin tahan akan serangan rayap dan serangga penggerek batang, tahan akan perubahan kelembaban dan suhu serta tahan pula terhadap air laut. Karena ketahanannya tersebut maka wajar jika dikatakan kayu ulin, kayu sepanjang masa dan kayu primadona. Kayu ini sangat sukar dipaku dan digergaji tetapi mudah dibelah.

Selanjutnya Departemen Kehutanan (1992) menyatakan bahwa kayu ulin ini merupakan salah satu jenis kayu mewah/indah yang masuk dalam daftar jenis pohon untuk ditanam untuk berbagai tujuan.

Di TN Kutai terdapat pohon Ulin (Eusideroxylon zwageri) yang berukuran raksasa dengan diameter 2,47 meter dan tinggi ± 20 m yang berumur ± 1.000 tahun. Dan di TN Kutai juga masih dapat dijumpai tipe vegetasi hutan ulin yang tutupan vegetasinya di dominasi oleh pohon ulin.

Pohon Ulin yang berumur ± 1.000 tahun di TN Kutai

MANFAAT ULIN :

Ulin merupakan salah satu jenis pohon hutan Kalimantan yang memiliki banyak kegunaan. Selain manfaat kayunya, ulin juga memiliki manfaat lain yang tidak kalah penting dan bernilai ekonomis.

1. Manfaat Ekonomi

Manfaat bagi kepentingan ekonomi diantaranya menghasilkan produk-produk yang bernilai ekonomi seperti kayu gergajian, sirap, ukiran, bahan bangunan, tiang, dan produk kayu lainnya.

2. Manfaat Ekologi

Dalam hubungannya dengan manfaat ekologi pohon ulin merupakan tempat favorit untuk membuat sarang bagi orangutan. Orangutan juga memakan daun-daun ulin yang masih muda. Pohon ulin memiliki peranan ekologi yang penting diantaranya menghasilkan oksigen yang menyerap karbondioksida melalui proses fotosintesis, mempertahankan air tanah, menahan air dan tanah serta mempengaruhi iklim mikro dan lain sebagainya.

Pohon Ulin sebagai tempat favorit Orangutan untuk membuat sarang

3. Manfaat Sosial Budaya

Manfaat bagi kepentingan sosial budaya merupakan manfaat yang juga bersifat ekstraktif namun pemanenan dilakukan tidak dengan cara menebang. Manfaat ini diperoleh dengan mengambil bagian yang tidak mematikan dari jenis ini. Manfaat sosial budaya dari pohon ulin adalah sebagai obat tradisional dan sebagai bahan kerajinan dan ukiran tradisional dengan memanfaatkan tunggak ulin yang telah mati sehingga tidak mengancam kelestariannya.


Tumbuhan ini berkhasiat untuk mengatasi beberapa penyakit dan gangguan kesehatan. Terkait dengan pemanfaatannya sebagai bahan obat, daun ulin mengandung beberapa senyawa fitokimia seperti flavonoid, saponin, tanin dan sterol – terpenoid serta banyak mengandung tanin. Selain pemanfaatan daun dan batangnya, biji ulin yang dihaluskan dimanfaatkan untuk obat bengkak, menghitamkan rambut atau semir rambut. Buah ulin yang akan digunakan dikeringkan, dicampur dengan minyak kelapa. Di pasar – pasar tradisional di Kalimantan kadang dijual produk minyak ulin yang berkhasiat untuk menghitamkan rambut dan mencegah tumbuhnya uban. Adanya khasiat obat pada biji ulin ini mungkin ada hubungannya dengan kandungan racun yang ada di dalamnya.

MORFOLOGI ULIN :

Ulin termasuk jenis pohon besar yang tingginya dapat mencapai 50 m dengan diameter sampai 200 cm. Pohon ini tumbuh pada dataran rendah sampai ketinggian 400 m. Ulin umumnya tumbuh pada ketinggian 5 – 400 m di atas permukaan laut dengan medan datar sampai miring, tumbuh terpencar atau mengelompok dalam hutan campuran namun sangat jarang dijumpai di habitat rawa-rawa. Kayu Ulin juga tahan terhadap perubahan, suhu, kelembaban dan pengaruh air laut sehingga sifat kayunya sangat berat dan keras.

PEMULIHAN ULIN :

Berdasarkan daftar merah IUCN (International Union for Conservation of Nature) kayu ulin termasuk ke dalam kategori rentan (vulnerable). Dimasukkan Kategori Rentan karena kayu ulin sudah jarang dijumpai akibat eksploitasi besar-besaran melalui aktivitas illegal logging dan perambahan hutan.

Kayu Ulin sulit dibudidayakan, dan walaupun bisa tanaman ini akan bisa ditebang kayunya setelah berusia ratusan tahun sehingga tak ada orang yang mau mengembangkan jenis kayu tersebut. Lambatnya pertumbuhan ulin ditunjukkan dengan rata-rata pertumbuhan diameter pohon. Pertumbuhan itu rata-rata hanya 0,058 cm per tahun. Bandingkan dengan pertumbuhan rata-rata diameter pohon meranti misalnya, lebih kurang 1 cm per tahun, bahkan 2 cm dengan perlakuan khusus.

Selain itu, perkembangbiakan ulin tak bisa dilakukan dengan cepat. Buah Ulin memiliki cangkang keras. Tak heran proses perkecambahan ulin lambat. Selain dikikir, perkecambahan bisa dipercepat dengan menggoreng. Buah digoreng bukan dengan minyak tapi pasir. Buah ulin berbentuk lonjong dengan panjang sekitar 15 cm dan diameter sekitar 7 cm.


Buah Ulin 

Dari hasil pengamatan penulis di kawasan TN Kutai, Kayu Ulin dapat tumbuh dengan baik secara alami dibawah naungan atau tegakan hutan atau dengan kata lain sangat sulit tumbuh di daerah yang terbuka. Tunggul kayu ulin dari aktivitas illegal logging yang dilakukan di kawasan TN Kutai dapat tumbuh kembali secara alami apabila berada dibawah tegakan/naungan. Demikian pula apabila pohon ulin yang tumbang dan masih dibawah naungan, akan muncul/tumbuh tunas-tunas yang baru sebagai bakal pohon baru.


Tunas baru yang tumbuh dari tunggul pohon Ulin yang ditebang



Pohon Ulin yang tumbuh secara alami dibawah tegakan hutan TN Kutai

Beberapa upaya pemulihan Ulin melalui kegiatan rehabilitasi dan restorasi dengan penanaman pohon ulin di kawasan TN Kutai sudah dilaksanakan baik oleh pihak Balai TN Kutai sendiri maupun dari beberapa perusahaan sebagai Mitra TN Kutai, namun belum sebanding dengan tingkat kerusakan vegetasi ulin sebagai akibat dari perambahan dan illegal loging oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab.

 

“Dengan pertumbuhan yang sangat lambat tapi terus ditebang dan dicari tanpa ada yang bersedia membudidayakan maka sudah bisa ditaksir kedepan kayu ini hanya tinggal kenangan saja”.

Sumber : 
  • Abdurachman. 2011. Tanaman Ulin (Eusideroxylon Zwageri T. & B) pada Umur 8,5 tahun di Arboretum Balai Besar Penelitian Dipterokarpa Samarinda. Samarinda.
  • Martawijaya A., I.Kartasujana, Y.I.Mandang, S.A.Prawira dan K. Kadir. 1989. Atlas Kayu Indonesia. Jilid II. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Bogor.
  • Departemen Kehutanan. 1992. Manual Kehutanan. Departemen Kehutanan Republik Indonesia. Jakarta.
  • http://sains.kompas.com.

Selasa, 08 Oktober 2013

PEDOMAN PENYADAPAN GETAH PINUS

PEDOMAN PENYADAPAN GETAH PINUS


Getah pinus berada pada batang dimana didalam saluran getah yang arahnya vertical ( longitudinal ) maupun horizontal ( radial ). Saluran getah ini terbentuk secara lisigen, sizogen, maupun sizoligen. Beberapa ketentuan pohon pinus yang akan disadap :

a. Diameter limit cupping, diameter pohon pinus yang akan dsadap adalah diatas 15cm.
b. Selective cupping, pohon-pohon yang akan disadap adalah pohon yang waktu mendatang dijarangi atau ditebang yaitu sejak umur 10 tahun samapai pada daur tebangan atau umur penjarangan. Biasanya dilakukan pada perusahan pengelolaan pinus yang menggunakan pinus untuk berbagai kegunaan.

Beberapa cara teknik penyadapan :
  • Bentuk koakanTeknik ini dilakukan denagn cara mengerok kulot batang lebih dulu, kemudian kayunya dilukai sedalam 1-2 cm, sedang lebarnya 10 cm. Pelukaan dengan cara ini membentuk huruf U terbalik dengan jarak dari permukaan tanah sekitar 15-20 cm. Pelukaan yang baru diatas luka lama dengan tebal jarak 5 mm.
  • Bentuk V Teknik ini hamper sama dengan teknik diatas tetapi berbebtuk huruf V. dapat juga dimodifikasi menjadi V ganda atau seri arah keatas ( rill) yang bentuknya seperti sirip ikan.
  • Goresan atau guratana; Cara ini pada penyadapan pinus jarang dilakukan, umumnya dilakukan pada agathis ( kopal ). Hal ini mengimgat kulit pinus yang tebal. Goresan dilakukan dengan kemiringan 45° atau melingkar.
  • Dengan bor; Dengan syarat diameter 3 cm, 3-12 cm keatas atau kedalam.
  • Dari keempat teknik tersebut yang paling efektif atau paling banyak menghasilkan getah pinus adlah dengan menggunakan metode koakan, kemuidian teknik bentuk V dan teknik bor.
Berikut ini urutan penyadapan untuk koakan pada pinus :
  • Mula-mula kulit batang pada tempat yang akan dibuat pelukaan dibersihkan selebar 10-12 cm kearah atas dimulai dari bawah.
  • Kualitas Getah Pinus; Kualitas getah pinus sadapandibedakan atas dua kelas yaitu :
1. Mutu A
a) Berwarna putih bening
b) Tidak ada campuran tanah/lumpur dan kotoran lain (kandungan kotoran kurang dari 2%)
c) Kadar air kurang dari 3 %

2. Mutu B
a) Berwarna keruh –coklat
b) Ada campuran tanah dal lumpur (kandungan kotoran 2-5%)
c) Kadar air lebih dari 3%

Produk getah yang tidak memenuhi ketentuan kelas kualitas tersebut diatas ditolak untuk diterima.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Getah Pinus Hasil sadapan yang diperoleh dipengaruhi oleh :

1) Faktor internal pohon :
a) Jenis pohon Pinus yaitu pinus yang berbeda hasil getahnya misalnya
Jenis pinus letak persen
· Pinus merkusii 6kg/phn/thn gubal 36,3 %
· Pinus palustris 4,2 kg/phn/thn pangkal 0,64 %
· Pinus maritime 3 kg/phn/thn 10 m dpl 0,33 %
· Pinus khasya 7 kg/phn/thn akar 0,70%
a) Persen kayu gubal,yaitu batang kayu Pinus dengan jumlah kayu gubal terbanyak dapat menghasilkan getah maksimum sebab kayu gubal adalah tempat akumulasi getah tertinggi (36 %)
b) Kesehatan pohon,yaitu jika pohon sehat mungkin menghasilkan getah lebih banyak.
c) System perakaran,yaitu Pinus dengan perakaran yang luas berarti mampun menyerap lebih banyak zat makanan dari tanah,sehingga getah lebih banyak.
d) Persen tajuk (lebar dan tinggi tajuk pohon) yaitu Pinus dengan tajuk lebih banyak memungkinkan proses fotosintesis lebih optimal dan menghasilkan banyak getah.

2) Faktor Ekstern (Lingkungan luar pohon), yaitu :
Jarak tanam yaitu hutan pinus dengan jarak tanam yang jarang iklim mikronya tidak lembab dan bersuhu tinggi sehingga menghasilkan getah pinus lebih banyak,demikian sebaliknya.
Iklim dan tempat tumbuh yaitu pohon pinus yang tumbuh didaerah dengan curah hujan tinggi,dingin atau di daerah dengan tinggi > 700 m dpl menghasilkan getah sedikit.curah hujan rata-rata <>
Bonita yaitu pada tanah yang subur memungkinkan menghasilkan getah pinus yang lebih banyak ( ada 7 kelas bonita)

3) Faktor perlakuan oleh manusia
· Bentuk sadapan yaitu hasil sadapan dari bentuk koakan lebih banyak dari rill dan bor
· Arah sadapan yaitu arah menghadapnya luka sadapan menghadap timur paling banyak menghasilkan getah kemudian disusul arah utara,selatan dan barat.
· Arah pembaruan, yaitu kea rah atas atau bawah.pembaruan ke atas menghasilkan lebih banyak getah.
· Upaya stimulansia, yaitu upaya perangsangan pada luka sadapan dengan bahan kimia asam.upaya stimulansia harus menggunakan pedoman yang teliti agar tidak merugikan.bahan stimulansia yang dapat dipakai misalnya asam sulfat,asam oksalat,CuSO4,bolus alba,Ethrel dengan jumlah tertentu yang ditentukan.

4)Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produk
o Asal (umur pohon ) getah yang diperoleh,makin tua makin banyak dan bagus.
o Kualitas getah yang tersedia
o Lama menunggu terasuk penyimpanan,makin lama disimpan makin tidak baik.
o Penyimpana dalam proses pencampuran dengan bahan penolong,bila tepat maka optimal rendemen dan kualitas.

5)Sifat dan Kegunaan
Gondorukem didapat dari hasil pengolahan getah pinus,bersifat rapuh,bening,mempunyai titik leleh rendah dan bau khas terpentin serta tidak larut dalam air.
Manfaat gondorukem adalah :
o Industri Batik : bahan penyampur lilin batik sehingga diperoleh malam.kebutuhn kira-kira 2.500 ton/thn
o Industry kertas : bahan pengisi dalam pembuatan kertas.kebutuhan kira-kira 0,5 % dari produksi kertas atau 2.000 ton/thn
o Industry sabun : sebagai campuran kira-kira 5-10% dari berat sabun.
o Pembuatan Vernish,tinta,bahan isolasi listrik,korek api,lem,industry kulit dan lalin-lain.
o Di luar negeri manfaat lain gondorukem dan derivatnya digunakan untuk membuat resin sintetis,plastic,lem,aspal,bahan pliitur,lak sintetis,industry sepatu,galangan kapal,dll.
Untuk minyak terpentin-nya dapat digukana secara langsung dan muurni melalui upaya distilalsi ualng serta melalui pengolahan lanjutan,misalnya untuk pelarut organic,pelarut resin,bahan semir sepatu,logam dan kayu dan bahan kamfer sintetis dll.

Prospek Pemanfaatan Getah Pinus

Telah kita ketahui bahwa ada kecenderungan terjadinya penurunan produktifitas hutan alam, terutama hasil hutan berupa kayu, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Hal ini disebabkan karena selama ini pemerintah lebih mengutamakan hasil hutan berupa kayu sebagai produk primadona dalam bidang bisnis kehutanan untuk memperoleh devisa yang sebanyak-banyaknya. Kondisi ini telah mengakibatkan rusaknya lingkungan hutan, berkurangnya keanekaragaman hayati, serta bentuk-bentuk kerusakan yang lain. Berdasarkan hal tersebut maka pengelolaan hutan di masa yang akan datang seyogyanya diarahkan untuk lebih meningkatkan pemanfaatan hasil hutan bukan kayu yang jenis dan potensinya sangat berlimpah. Banyak pakar yang memprediksi bahwa pengelolaan dan pemanfaatan hasil hutan bukan kayu akan berperan lebih penting dibandingkan dengan produk-produk kayu, baik dari sisi ekonomi, lingkungan, sosial maupun budaya.

Salah satu produk hasil hutan bukan kayu yang mempunyai prospek cukup cerah di masa mendatang untuk dikembangkan di Indonesia adalah gondorukem yang merupakan hasil destilasi dari getah (oleo-resin) yang disadap dari pohon pinus (Pinus merkusii). Peluang mengembangkan industri gondorukem ini cukup besar, mengingat potensi hutan pinus yang cukup besar yang belum dimanfaatkan secara optimal, serta adanya peluang pasar yang terbuka lebar, baik untuk keperluan domestik maupun ekspor.

Prospek Pemanfaatan Getah Pinus
Kabupaten Aceh Tengah memiliki potensi hutan pinus alam yang sangat baik seluas ± 90.000 ha. Sampai saat ini pemanfaatan tegakan pinus masih tebatas pada pemanfaatan kayu sebagai produk utama. Pemanfaatan getah pinus dapat dilakukan dengan melibatkan masyarakat sekitar hutan sebagai penyadap getah. Berdasarkan pengalaman sadapan pinus yang telah dilakukan di Perum Perhutani, produktivitas sadapan getah pinus adalah 9 gram/pohon/hari. Dengan memperhitungkan luas areal yang disadap adalah 50 % maka potensi getah pinus yang dihasilkan adalah sebesar 121,5 ton per hari.

Biaya pengelolaan penyadapan pinus yang terdiri dari : upah sadap, penanganan getah, angkutan dan biaya manajemen lainnya adalah sebesar Rp 8.000,-/kg. Harga getah pinus di pasar internasional pada awal tahun 2011 adalah sebesar US $ 1700 per ton atau sekitar Rp 15.300,- per kg ( US $1 = Rp 9.000,-). Dengan demikian potensi pendapatan yang akan diterima bila dilakukan penyadapan pinus di Kabupaten Aceh Tengah adalah sebesar Rp 886.950.000,-per hari.

Prospek Pabrik Gondorukem dan Terpentin
Gondorukem diperoleh dengan cara destilasi getah yang diperoleh dari penyadapan pohon pinus. Setelah diangkut ke pabrik, getah hasil penyadapan terlebih dulu dilakukan pengenceran dan penyaringan, selanjutnya di-destilasi pada suhu dan tekanan tertentu. Desain peralatan dalam produksi gum rosin ini bervariasi pada setiap negara , namun secara garis besar proses tersebut dapat dilihat pada Diagram 1. Prinsip dari metoda ini adalah memisahkan antara gondorukem dan terpentin yang terdapat di dalam getah pinus melalui proses destilasi, antara lain melalui proses : pengenceran; pencucian; penyaringan; pemasakan dan pengemasan. Instalasi proses produksi sebagaimana pada gambar 1.

Gambar 1. Instalasi Proses Produksi
Pentahapan proses produksi gondorukem dan terpentin secara sederhana dapat diuraikan sebagai berikut :
  1. Proses Pengenceran
    Pengenceran larutan getah dilakukan dengan cara menambahkan 1.000 liter dalam tangki melter, kemudian dipanaskan pada suhu 68-80 ºC (derajad Celcius) selama 10-15 menit.
  2. Proses Pencucian
    Pencucian larutan getah pada tangki settler dilakukan denga cara mencampurkan Asam Oksalat 3-5 kg/batch untuk mengendapkan ion besi yang berasal dari kotoran getah.
  3. Proses Penyaringan
    Larutan getah disaring secara bertahap pada aliran sebagai berikut :
    • Aliran dari tangki melter - settler dengan filter RGT4 – aliran dari tangki settler – tangki penampung dengan filter Gaf Stainer
    • Aliran dari tangki penampung – Ketel pemasak dengan filter GafStaner.
  4. Proses Pemasakan
    Getah bersih dari tangki penampung dipompakan ke ketel pemasak melalui filter Gaf PO.1 mikron dan dipanaskan pada suhu 160-165 ºC dan vacuum menunjukkan 40-60 cmHg selama ± 3 jam, sehingga larutan tersebut matang menjadi gondorukem dan dialirkan pada instalasi pengemasan (canning).
  5. Proses Pengemasan (canning)
    Proses canning merupakan proses akhir dari pemasakan getah pinus yang mana gondorukem tersebut dicurahkan ke dalam wadah drum kerucut. Pada saat pengisian gondorukem tersebut (canning) dilakukan penimbangan dengan berat netto 240 kg/drum.
Selanjutnya produk gondorukem dan terpentin sebelum dipasarkan telah melalui pengujian yang mengacu pada standar mutu (SNI). 


Pengujian Produk Akhir
  1. Pengujian Kualitas dengan metode Lovibond : X, WW, WG bagi Gondorukem
  2. Pengujian titik softening point untuk gondorukem
  3. Pengujian kadar kotoran untuk gondorukem
  4. Pengujian kejenuhan warna untuk terpentin
  5. Pengujian Berat Jenis untuk terpentin
  6. Jika dipasarkan ke luar negeri (export), masih diperlukan juga pengujian, antara lain : Optical Rotation, Flash Alpha, Beta Pinen Content, Refrective Index, dan sebagainya.
Sebagaimana kita ketahui, bahwa Kabupaten Aceh Tengah mempunyai kawasan hutan Pinus yang cukup luas, sehingga sangat berpotensi untuk dikembangkan produk hilirnya selain untuk meningkatkan perekonomian dalam arti menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD), juga dapat menyerap banyak tenaga kerja serta masih banyak lagi manfaat yang diperolehnya. Potensi produksi getah pinus di Kab Aceh tengah sebesar 121,5 ton per hari memerlukan pabrik dengan kapasitas 30.000 ton per tahun. Untuk membangun pabrik sebesar ini diperlukan investasi sebesar Rp 50 M. Rendemen yang dihasilkan dari pengolahan getah pinus adalah 71 % berupa gondorukem dan 16 % berupa terpentin. Biaya yang diperlukan untuk mengolah getah pinus adalah sebesar Rp 2.500,-/kg getah. Dengan demikian biaya yang dikeluarkan untuk penyadapan getah pinus sampai menjadi produk olahan adalah sebesar Rp 1.275.750.000 per hari.

Potensi produksi gondorukem dari Aceh tengah adalah 86,265 kg per hari sedangkan terpentin sebesar 19.440 kg per hari. Harga gondorukem di pasar Internasional pada awal tahun 2011 adalah sebesar US $ 2500 per ton atau Rp 22.500 per kg dan harga terpentin adalah sebeser US $ 3300 per ton atau Rp 29.700,- per kg. Dengan demikian potensi penjualan gondorukem dan terpentin dari Kabupaten Aceh Tengah adalah Rp 2.518.330.500,- per hari. Potensi Pendapatan Daerah dari diprediksi sebesar Rp 1.242.580.500 ,- per hari. Produk hilir gondorukem dan terpentin dapat diolah menjadi bahan industri untuk pembuatan kertas, sabun, tekstil, tinta cetak, cat/vernish, bahan issolasi listrik dan lain sebagainya.